Stop Cuci Darah dengan Propolis
Solusi Stop Cuci Darah dengan Propolis Karena Gagal Ginjal
Adhitya
Tri Wardhana, mengalami
kejang, seluruh badan kaku, dan lemas.
Acara liburan kelulusan sekolah di Bali pun ricuh, guru dan teman-teman yang
tengah asik bermain panik. Mereka membawa Adhitya yang ke rumahsakit. Hasil
pemeriksaan dokter menunjukkan fungsi ginjal Adhitya positif turun. Di tubuhnya terdeteksi penumpukan sisa metabolisme protein dan kekurangan elektrolit.
Itulah sebabnya dokter memberi suntikan elektrolit untuk menjaga keseimbangan
cairan tubuh. Kondisi kesehatan yang tidak bagus memaksa Adhitya mengakhiri
liburannya lebih cepat dan pulang ke Surabaya, Jawa Timur.
Wiwik Sudarwati MPd, ibunda Adhitya, tidak percaya
jika ginjal
anaknya bermasalah. Waktu berangkat ke Bali, Adhitya masih segar bugar. Tetapi
kok tiba-tiba sakit,” kata ibu 3 anak itu. Oleh karena itu Wiwik kembali
membawa Adhitya ke Rumahsakit Sint Vincentius a Paulo (sohor dengan nama RKZ
atau oomsch Katholiek Ziekenhuis), Surabaya. Hasil diagnosis dokter sama saja:
bungsu tiga bersaudara itu mengalami gangguan fungsi ginjal. Sejak itu Adhitya rutin
mengkonsumsi obat-obatan dan mengecek kesehatan sebulan sekali. Beraktivitas
berat pun dilarang. Menu makanannya juga diatur. Adhitya menghindari konsumsi
makanan berprotein tinggi. Tujuannya supaya ginjal tidak bekerja terlalu berat
dalam membuang sisa-sisa metabolisme protein. Adhitya hanya boleh mengkonsumsi
protein 40 g sehari, kata Wiwik.
Hampir 3 tahun Adhitya hidup di bawah pengawasan
dokter. Selama itu ia tidak mengalami keluhan sakit. Namun,menjelang pelulusan
SMA, kesehatan pria yang kini berusia 22 tahun itu drop. Saat itu ia mengikuti
banyak kegiatan bimbingan belajar sehingga sering pulang malam dan pola makanan
pun tidak terkontrol. Akibatnya, Adhitya kembali menginap di rumah sakit.
Dokter mendiagnosis positif
gagal ginjal. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar
kreatinin dalam darah tinggi mencapai 12 mg/dl, kadar normal 0,6—1,2 mg/dl. Solusinya
cuci darah 2 kali sepekan. Saat ini biaya sekali cuci darah berkisar Rp800.000.
Namun, keluarga memutuskan Adhitya untuk mengkonsumsi obat-obatan. Pilihan itu
ternyata berisiko tinggi.
Buktinya berselang 2 hari setelah menolak saran
dokter, Adhitya kembali menjalani pemeriksaan darah. Hasilnya, kadar kreatinin
semakin melonjak, 15 mg/dl . Dokter mengingatkan lagi untuk segera cuci darah.
Bila dibiarkan, kreatinin akan meracuni organ tubuh lain. Dokter juga
memberikan opsi lain, yaitu transplantasi ginjal. Salah satu dari orangtua
Adhitya harus rela menyumbangkan ginjal kepada sang anak. “Biayanya mencapai
Rp400-juta, ujar Wiwik.
Namun, pada pertengahan 2007, Wiwik bertemu salah satu
rekannya, Baktiono. Ketika itulah Baktiono menyarankan kepada Wiwik agar
memberikan propolis untuk
mengobati Adhitya. Menurut Baktiono konsumsi propolis bagus untuk meringankan beragam penyakit. Propolis merupakan produk yang
dihasilkan lebah Apis cerana dan Apis mellifera. Jika madu terdapat di dalam
sarang heksagonal; propolis
di luar sarang. Menurut Ir Hotnida CH Siregar MSi, ahli lebah dari Institut
Pertanian Bogor, lebah pekerja mengolah propolis
dari berbagai bahan seperti pucuk daun, getah tumbuhan, dan kulit beragam
tumbuhan.
Tertarik dengan saran itu, Wiwik lantas membeli 1
botol propolis. Ia kemudian
menyuruh Adhitya mengkonsumsinya 3 kali sehari sebelum makan. Dosis sekali
minum 1 sendok makan propolis
yang dicampurkan dalam 50 cc air. Satu setengah bulan rutin mengkonsumsi propolis, Adhitya melakukan cek
darah. Hasilnya positif, kadar kreatin turun di bawah 10 mg/dl. Menurut dokter
yang memeriksa kadar kreatin di bawah 10 mg/dl tidak perlu cuci darah.
Hasil itu merupakan kabar gembira bagi Adhitya dan
keluarga. Bahkan setahun rutin mengkonsumsi propolis, ia pun tak pernah lagi diwajibkan untuk cuci
darah. Pemeriksaan laboratorium terakhir, pada pertengahan 2008, menunjukkan
kadar kreatin turun menjadi 4 mg/dl. Sejak itu Adhitya rutin mengkonsumsi propolis sampai sekarang. Selain tak
perlu cuci darah, konsumsi propolis
juga meningkatkan stamina.
Dulu Adhitya sering lemas dan cepat capai. Sekarang
kondisinya lebih energik dan fit. Mahasiswa di
Universitas Bhayangkara itu pun leluasa beraktivitas sehari-hari. Dulu ke
mana-mana harus diantar, sekarang sudah bisa pergi sendiri; kata Wiwik. Dengan
rutin mengkonsumsi propolis,
Adhitya kini terbebas dari cuci darah.
Menurut Liu CF, periset di National Taipei College of
Nursing, antioksidan propolis
mampu melindungi ginjal dari kerusakan parah. Khasiat itu dibuktikan Liu secara
in vivo pada hewan percobaan. Ia menguji 2 kelompok tikus yang menderita gagal
ginjal akut. Satu kelompok diberi propolis;
kelompok lain, tanpa propolis.
Sejam setelah pemberian propolis,
Liu lalu mengamati tingkat kerusakan ginjal tikus. Hasilnya, kerusakan ginjal
kelompok yang tidak mengkonsumsi propolis
lebih parah ketimbang kelompok yang mendapatkan asupan propolis. Itu ditandai dengan meningkatnya kadar
malondialdehid (MDA) dalam ginjal tikus. Kadar malondialdehid tinggi
mengindikasikan terjadinya stres oksidatif yang bisa memicu kerusakan ginjal.
Menurut Prof Dr Mustofa Mkes Apt, periset di Bagian
Farmakologi & Toksikologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada,
sifat antioksidan pada propolis
lantaran mengandung senyawa flavonoid dan polifenol. Senyawa aktif itu
melindungi tubuh dari gempuran radikal bebas penyebab kerusakan sel. Dengan
terlindungnya ginjal dari kerusakan parah maka proses regenerasi sel pun bisa
lebih mudah berjalan. Adhitya Tri Wardhana merasakan manfaat itu. Ia terbebas
dari cuci darah sejak rutin mengkonsumsi propolis.
Buktikan sendiri dan Rasakan Khasiatnya,,,,
Propolis .... Solusi Sehat Sejahtera





